TENTANG SMP NEGERI 4 YOGYAKARTA
SELAYANG PANDANGSMPN 4 Yogyakarta merupakan perubahan dari SKKP (Sekolah Kesejahteraan Keluarga Pertama) yang memiliki dua program keterampilan, yaitu tata boga dan tata busana. Aset SKKP sampai saat ini masih dimanfaatkan dalam proses pembelajaran keterampilan, dan menjadi salah satu Mata Pelajaran yang menjadi ciri khas sekolah. Perubahan SKKP menjadi SMP pada 5 Oktober 1994, dengan proses perubahan nama dari SMPN 18 kemudian SLTPN 4 Yogyakarta dan yang terakhir adalah SMPN 4 Yogyakarta sesuai dengan ketentuan dari Departemen Pendidikan
|
KEPALA SEKOLAH
|
LOKASI SMP NEGERI 4 YOGYAKARTABerada di Jalan Hayam Wuruk No. 18. Kelurahan Bausasran, Kecamatan Danurejan, Kota Yogyakarta.
|
TODAY
Simulasi Aman Bencana SMP Negeri 4 Yogyakarta: Menanamkan Kesiapsiagaan Sejak Dini
Dalam rangka memperingati Hari Kesiapsiagaan Bencana 2026, SMP Negeri 4 Yogyakarta melaksanakan kegiatan Simulasi Aman Bencana sebagai bentuk komitmen sekolah dalam membangun budaya sadar dan tanggap terhadap risiko bencana. Kegiatan ini merupakan tindak lanjut dari Surat Edaran Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta Nomor 41 Tahun 2026 tentang Pelaksanaan Kegiatan Simulasi Evakuasi Bencana di wilayah DIY.
Simulasi ini dirancang secara mandiri oleh Tim Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB) Wicaka dengan skenario terjadi bencana gempa bumi yang pada saat kegiatan pembelajaran berlangsung.
Kegiatan dimulai ketika sirene tanda bahaya pertama dibunyikan. Dalam hitungan detik, suasana belajar berubah menjadi situasi tanggap darurat. Seluruh siswa dan guru secara sigap melakukan prosedur perlindungan diri, seperti berlindung di bawah meja, menjauhi kaca, dan melindungi kepala. Tahapan ini menjadi momen penting untuk menanamkan refleks keselamatan sebagai respon awal saat terjadi gempa.
Beberapa saat kemudian, sirene kedua dibunyikan sebagai tanda evakuasi. Dengan tertib dan tanpa panik, seluruh warga sekolah bergerak menuju titik kumpul yang telah ditentukan. Guru memastikan siswa tetap dalam kelompoknya, sementara tim evakuasi memantau jalur keluar agar tetap aman dan lancar. Proses ini menggambarkan pentingnya koordinasi, disiplin, dan kepemimpinan dalam situasi darurat.
Di titik kumpul, dilakukan pendataan kehadiran untuk memastikan seluruh warga sekolah dalam kondisi selamat. Tim SPAB juga memberikan arahan singkat serta evaluasi terhadap pelaksanaan simulasi, guna meningkatkan kesiapan di masa mendatang.
Melalui kegiatan ini, SMP Negeri 4 Yogyakarta tidak hanya melaksanakan instruksi kebijakan, tetapi juga menghadirkan pengalaman nyata bagi siswa dalam menghadapi bencana. Simulasi ini menjadi sarana edukasi yang efektif untuk menanamkan nilai-nilai mitigasi bencana, seperti kewaspadaan, ketenangan, kerja sama, dan kepedulian.
Harapannya, seluruh warga sekolah memiliki kesiapan yang lebih baik dalam menghadapi potensi bencana, serta mampu menjadi agen perubahan di lingkungan masing-masing dalam membangun budaya sadar bencana.
Tim Wicaka Media
Simulasi ini dirancang secara mandiri oleh Tim Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB) Wicaka dengan skenario terjadi bencana gempa bumi yang pada saat kegiatan pembelajaran berlangsung.
Kegiatan dimulai ketika sirene tanda bahaya pertama dibunyikan. Dalam hitungan detik, suasana belajar berubah menjadi situasi tanggap darurat. Seluruh siswa dan guru secara sigap melakukan prosedur perlindungan diri, seperti berlindung di bawah meja, menjauhi kaca, dan melindungi kepala. Tahapan ini menjadi momen penting untuk menanamkan refleks keselamatan sebagai respon awal saat terjadi gempa.
Beberapa saat kemudian, sirene kedua dibunyikan sebagai tanda evakuasi. Dengan tertib dan tanpa panik, seluruh warga sekolah bergerak menuju titik kumpul yang telah ditentukan. Guru memastikan siswa tetap dalam kelompoknya, sementara tim evakuasi memantau jalur keluar agar tetap aman dan lancar. Proses ini menggambarkan pentingnya koordinasi, disiplin, dan kepemimpinan dalam situasi darurat.
Di titik kumpul, dilakukan pendataan kehadiran untuk memastikan seluruh warga sekolah dalam kondisi selamat. Tim SPAB juga memberikan arahan singkat serta evaluasi terhadap pelaksanaan simulasi, guna meningkatkan kesiapan di masa mendatang.
Melalui kegiatan ini, SMP Negeri 4 Yogyakarta tidak hanya melaksanakan instruksi kebijakan, tetapi juga menghadirkan pengalaman nyata bagi siswa dalam menghadapi bencana. Simulasi ini menjadi sarana edukasi yang efektif untuk menanamkan nilai-nilai mitigasi bencana, seperti kewaspadaan, ketenangan, kerja sama, dan kepedulian.
Harapannya, seluruh warga sekolah memiliki kesiapan yang lebih baik dalam menghadapi potensi bencana, serta mampu menjadi agen perubahan di lingkungan masing-masing dalam membangun budaya sadar bencana.
Tim Wicaka Media











